
Horor Pemerkosaan Massal di Sudan yang Kini Dikuasai Paramiliter
Amira, seorang ibu asal Sudan, terbangun setiap hari dengan gemetar, dihantui oleh kenangan pemerkosaan massal yang disaksikannya saat melarikan diri dari El-Fasher. Kota ini jatuh ke tangan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) pada 26 Oktober lalu, setelah 18 bulan pengepungan yang diwarnai kelaparan dan pengeboman. Sejak saat itu, laporan tentang pembunuhan massal, kekerasan seksual, serangan terhadap pekerja kemanusiaan, penjarahan, dan penculikan menyeruak.
Latar Belakang Konflik
Konflik antara militer Sudan dan RSF dimulai sejak April 2023. El-Fasher, sebagai benteng terakhir militer di Darfur bagian barat, menjadi sasaran utama serangan RSF. Pengepungan yang panjang menyebabkan kota ini kehilangan komunikasi, sehingga informasi di lapangan sulit didapatkan.
Fakta Penting dari Konflik
Dilansir AFP pada Rabu (5/11/2025), RSF diketahui melakukan kekerasan terhadap warga sipil. Pemerkosaan massal yang disaksikan Amira adalah contoh nyata dari ketidakamanan yang melanda El-Fasher. Kondisi ini menambah derita masyarakat yang sudah lama terpapar konflik.
Dampak pada Masyarakat
Keruntuhan El-Fasher memberikan dampak sosial yang dalam. Banyak warga, termasuk Amira, harus melarikan diri dengan tangan kosong, meninggalkan rumah dan segala sesuatu di belakang. Kekerasan seksual yang massif juga meninggalkan trauma yang sulit diatasi, terutama bagi perempuan dan anak-anak.
Penutup
Kisah Amira menggambarkan derita masyarakat Sudan di tengah konflik yang tidak kunjung usai. Pemerkosaan massal dan kekerasan lainnya menjadi bukti ketidakamanan yang melanda El-Fasher. Diperlukan tindakan internasional untuk memberikan bantuan dan memastikan keadilan bagi korban. Tanpa solusi yang komprehensif, derita Amira dan ratusan lainnya akan terus berlanjut.











