
Kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dimaksudkan untuk menarik kembali pabrik-pabrik dan industri ke Paman Sam. Dengan begitu AS dapat mencetak lapangan kerja lebih.
Namun, kebijakan ini bakal jadi senjata makan tuan. Menurut para eksekutif perusahaan dan ekonom, kebijakan ini malah berpotensi menurunkan jumlah pekerja aktif dalam negeri pada 2026 mendatang.
Melansir CNBC, Rabu (3/12/2025), saat ini pasar tenaga kerja sudah berada dalam kondisi tanpa pemecatan namun juga tanpa perekrutan. Artinya, saat ini banyak usaha di Negeri Paman Sam sedang tak menambah atau mengurangi karyawan yang ada, alias stagnan.







