
Kehadiran Presiden Prabowo Subianto di lokasi bencana, bukan sekali, bukan dua kali, tetapi berulang, menyampaikan pesan yang kuat. Ketika kepala negara memilih menyambut pergantian tahun di tengah warga terdampak bencana di Tapanuli Selatan, lalu kembali memastikan penanganan di Aceh Tamiang, publik seharusnya membaca ini sebagai sinyal serius: negara tidak sedang bekerja setengah hati.
Presiden tidak datang sekadar meninjau atau menyapa warga. Di lokasi bencana, Prabowo menggelar rapat panjang bersama para menteri terkait, TNI, Polri, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Rapat itu berlangsung lama, detail, bahkan disiarkan secara langsung kepada publik.
Ini bukan praktik lazim dalam penanganan bencana-dan justru di situlah letak pesannya: koordinasi tidak dilakukan di balik meja tertutup Jakarta, melainkan langsung di titik krisis, dengan transparansi penuh kepada publik meski dengan risiko omongan dipelintir pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.











