
Latar Belakang
Sejak akhir November 2025, tiga provinsi di ujung barat Indonesia – Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) – dilanda bencana dahsyat. Banjir bandang dan tanah longsor, disebabkan hujan ekstrem dan dampak siklon tropis, telah merenggut lebih dari 883 jiwa dan menjerumuskan ribuan warga ke dalam krisis. Data resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan eskalasi dramatis korban jiwa, dari 442 jiwa tewas pada pembaruan awal menjadi 883 jiwa tewas dan 650 orang hilang.
Fakta Penting
Selain korban jiwa, bencana ini juga menyebabkan kerugian material yang luar biasa. Ribuan rumah rusak berat, sedang, maupun ringan, serta fasilitas pendidikan, jembatan, dan infrastruktur vital lainnya runtuh. Ratusan ribu warga terpaksa mengungsi, kehilangan rumah, mata pencaharian, dan rasa aman. Tragedi ini menjadi peringatan penting atas pentingnya pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai rumah kita bersama.
Penutup
Bencana Sumatera menegaskan bahwa aksi Pencegahan dan pengelolaan DAS bukan hanya kewajiban, melainkan investasi vital untuk mencegah bencana di masa depan. Tragedi ini juga menimbulkan pertanyaan: apakah kita sudah cukup berupaya untuk membangun ketangguhan dan mencegah krisis serupa? Masa depan kita bergantung pada jawaban atas pertanyaan ini.







